Don’t Steal… The government does’t like competition.
Introducing, my portfolio. Now, you can use my service for your precios moment :)
(Source: rachelpalmer)
Berhubung belakangan ini sedang heboh masalah pencalonan Gubernur Jakarta yang saya kira sebentar lagi pelaksanaanya, maka saya mencoba menuliskan beberapa solusi yang muncul dari kepala saya. Saya bukan orang berotak encer dan hebat, tapi saya hanya orang yang pernah tinggal di Jakarta (tepatnya pinggiran Jakarta) dan mencoba memberikan saran seadanya yang keluar dari kepala saya. Siapa tau ada salah satu calon yang membaca dan memperhatikan tulisan.
Masalah pertama dari Ibu Kota ini adalah kemacetannya. Siapa warga Jakarta yang tidak pernah merasakan kemacetan Jakarta? Saya rasa tidak ada. Pengalaman saya selama ini, waktu yanh dibutuhkan dari Ciledug ke Blok M (SMA saya saat itu) membutuhkan waktu 1,5 jam menggunakan Metromini nomor 69. Menggunkan sepeda motor pun hanya mempersingkat waktu tempuh selama 30 menit. Kemacetan di Jakarta, menurut saya dan pasti para pembaca akan menyetujuinya, disebabkan oleh kendaraan bermotor yang sangat banyak jumlahnya. Tidak sepadannya antara ruas jalan dan jumlah kendaraan menyebabkan itu semua. Kenapa di Jakarta banyak sekali mobil dan motor? Yah, kalau saya bilang karena masyarakat tidak nyaman dengan kendaraan umum yang ada di Jakarta. Tengok saja metromini yang sering saya gunakan sewaktu saya SMA. Kotor, berisik, sumpek, tidak aman, ugal-ugalan, dan masih banyak lagi ketidaknyamanan yang ditawarkan. Apabila pemerintah mau menyediakan fasilitas transportasi yang nyaman masyarakat pasti mau meninggalkan kendaraannya pribadinya dan menggunakan fasilitas transportasi umum. Selain itu, keamanan di dalam transportasi umum, juga harus dipertimbangkan. Saya rasa tidak ada orang yang mau naik metromini dengan banyaknya copet, mantan penghuni penjara yang mengemis, pengamen yang memaksa, dan lain-lainnya. Terakhir, tempat parkir perlu dipertimbangkan oleh pemerintah juga. Bagi orang-orang pinggiran seperti saya ini, tempat parkir yang aman menjadi kebutuhan. Dengan adanya tempat parkir 24 jam dan aman akan ada banyak masyarakat pinggiran yang lebih memilih menitipkan kendaraannya dan melanjutkan perjalanannya menggunakan angkutan umum yang terintegrasi dengan tempat parkir yang saya sebutkan sebelumnya.
Selanjutnya adalah tempat tinggal di Jakarta. Siapa sih yang tidak mau berkerja di Jakarta? Kota yang perputaran uang perharinya terbesar di Indonesia menjadi iming-iming yang indah bagi orang-orang dari pinggiran Jakarta dan orang dari luar daerah untuk mencari penghasilan. Alasan inilah yang menjadikan Jakarta tidak dapat menampung orang-orang untuk tinggal. Banyak developer-developer pembangunan yang membuat komplek perumahan di kota-kota supporting Jakarta seperti Depok, Tangerang, dan Cibubur. Tapi menurut saya itu tidak menjawab masalah sepenuhnya. Malah akan timbul juga masalah efek sampingnya seperti kemacetan akibat kendaraan mereka karena tidak mau naik angkutan umum yang nyaman dari tempat asalnya. Untuk mencari jawabannya mungkin kita bisa liat negara tetangga kita Singapura. Disana pembangunannya dilaksanakan secara vertikal atau pembangunan keatas, artinya perumahan atau perkantoran dibuat menjulang tinggi (apartemen atau kondominium), tidak seperti Jakarta yang melakukan pembangunan horizontal. Pembangunan horizontal atau membangun komplek perumahan di kota-kota pinggiran Jakarta selain lebih mahal juga akan menghabiskan lahan serapan air yang menyebabkan Jakarta sering kebanjiran. Daerah Jakarta Utara seperti Kelapa Gading dan Ancol yang awalnya dijadikan konservasi tumbuhan bakau pun dilalap oleh developer pembangunan untuk dijadikan komplek perumahan elit. Pasti anda para pembaca akan berkata “ah, apartemen mahal dan pasti hanya untuk orang-orang berduit saja”. Di Cina dan Hongkong banyak sekali apartemen murah untuk para buruh yang tidak dapat tunjangan rumah tinggal, namun developer disana juga membangun apartemen murah (kalau bahasa sehari-hari kita mungkin rumah susun) dengan biaya sewa sekitar lima ratus ribu rupiah disamping membangun apartemen mahal. Bagaimana dengan para tunawisma yang ada di Jakarta? Pemerintah seharusnya mendata dan membuatkan mereka rumah susun dengan disewakan dengan biaya yang murah atau gratis (walaupun tidak mungkin sepertinya).
Sebenarnya masih banyak lagi masalah di Jakarta yang harus diselesaikan gubernurnya seperti pembangunan mall yang berlebihan, hilangnya lahan terbuka, banjir, kesenjangan sosial, dan lain-lain. Saya tidak peduli siapa yang mau jadi gubernur Jakarta, yang saya harapkan adalah Jakarta menjadi ibukota dan rumah bagi kita semua.
[video]
@ekatel bikinin aku meja kaya gini dong yeah!
(Source: applewayfarers)
[video]
[video]